Ilmu Bisnis - Ada sesuatu yang terasa aneh ketika membicarakan kehancuran Nokia di pasar smartphone. Perusahaan asal Finlandia itu bukan perusahaan kecil yang tiba-tiba muncul lalu tersingkir karena tidak mempunyai modal, teknologi, jaringan distribusi, atau pengalaman, sebab pada masa kejayaannya Nokia justru merupakan salah satu perusahaan teknologi paling kuat di dunia dan pernah menguasai sebagian besar pasar telepon seluler global. Bahkan ketika Apple memperkenalkan iPhone pada 2007, Nokia masih berada dalam posisi yang sangat kuat sehingga dari luar hampir tidak ada alasan untuk membayangkan bahwa beberapa tahun kemudian bisnis ponselnya akan berakhir dan akhirnya berpindah ke tangan Microsoft. Yang membuat kisah Nokia jauh lebih menarik adalah kenyataan bahwa keruntuhan tersebut ternyata tidak dapat dijelaskan hanya dengan kalimat sederhana bahwa "iPhone lebih bagus" atau "Android mengalahkan Nokia". Penelitian dan kajian para akademisi yang mempelajari kejatuhan Nokia justru menunjukkan bahwa masalahnya sudah terbentuk di dalam perusahaan sebelum dampak kompetisi baru benar-benar terlihat dari luar.
Yves L. Doz, Emeritus Professor of Strategic Management di INSEAD yang bersama Keeley Wilson meneliti perjalanan Nokia melalui wawancara dengan para manajer senior perusahaan tersebut, bahkan menilai bahwa terlalu mudah menyalahkan Apple dan iPhone sebagai penyebab utama kehancuran Nokia. Menurut kajian mereka, Nokia sebenarnya sudah mengalami krisis strategis dan organisasional sebelum kinerja keuangannya menunjukkan bahwa perusahaan sedang berada dalam masalah serius. Temuan tersebut penting karena mengubah cara kita melihat kasus Nokia: perusahaan itu bukan tiba-tiba kalah setelah satu produk pesaing muncul, melainkan secara perlahan kehilangan kemampuan untuk merespons perubahan industri yang sebenarnya sedang berlangsung di depan mata mereka sendiri.
Pertanyaan yang kemudian jauh lebih menarik bukan lagi mengapa Nokia kalah dari iPhone, melainkan mengapa perusahaan sebesar Nokia tidak mampu mengubah dirinya ketika tanda-tanda perubahan sudah mulai terlihat? Jawabannya ternyata membawa kita pada Symbian, struktur organisasi yang semakin rumit, pertarungan kepentingan internal, ketakutan para manajer untuk menyampaikan kabar buruk, keterlambatan membangun ekosistem aplikasi, sampai keputusan strategis yang akhirnya membawa Nokia bersekutu dengan Microsoft. Ironisnya, sebagian keputusan yang pada saat itu terlihat masuk akal justru menjadi rangkaian keputusan yang semakin mempersempit jalan keluar Nokia.
Nokia Bukan Tidak Mampu Membuat Smartphone, Justru Itu yang Membuat Kejatuhannya Menarik
Kesalahan pertama dalam memahami kejatuhan Nokia adalah menganggap perusahaan tersebut tidak mampu membuat smartphone yang bagus. Anggapan itu terlalu sederhana karena Nokia sudah lama mengembangkan perangkat yang mempunyai kemampuan jauh melampaui telepon seluler biasa sebelum iPhone diperkenalkan. Perusahaan tersebut mempunyai pengalaman perangkat keras, kamera, konektivitas, sistem operasi, jaringan distribusi internasional, merek yang sangat kuat, dan basis pengguna yang sangat besar. Dengan modal seperti itu, Nokia seharusnya memiliki kesempatan besar untuk menjadi salah satu pemenang revolusi smartphone, tetapi persoalannya adalah industri yang sedang terbentuk ternyata tidak lagi memberikan hadiah terbesar kepada perusahaan yang hanya mampu membuat perangkat keras dengan baik. Kompetisi mulai berpindah ke wilayah perangkat lunak, aplikasi, platform, dan ekosistem yang membuat hubungan antara produsen, pengembang aplikasi, dan pengguna menjadi jauh lebih penting daripada sekadar spesifikasi perangkat.
Di sinilah penelitian akademik mengenai Nokia menjadi sangat menarik karena para peneliti tidak hanya melihat produk yang gagal, tetapi juga keputusan teknologi dan desain organisasi yang membentuk kegagalan tersebut. Penelitian Juha-Antti Lamberg dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Business History menyimpulkan bahwa kegagalan Nokia tidak cukup dijelaskan oleh satu sifat seperti kesombongan atau rasa takut, melainkan oleh serangkaian pilihan teknologi dan organisasi yang secara bertahap membuat perusahaan semakin sulit merespons Apple dan Google. Mereka menemukan bahwa Nokia terus menghadapi persoalan dalam menentukan apakah perusahaan harus mengejar strategi berbiaya rendah, meningkatkan kemampuan smartphone kelas atas, atau mengejar solusi keamanan untuk pasar perusahaan, sehingga arah pengembangan teknologi di dalam organisasi tidak selalu bergerak menuju tujuan yang sama.
Masalah tersebut menjadi semakin serius karena keunggulan Nokia pada era telepon seluler konvensional justru dapat menciptakan cara berpikir yang sulit ditinggalkan. Selama bertahun-tahun, Nokia berhasil melalui pendekatan yang menekankan desain perangkat, efisiensi produksi, berbagai model untuk berbagai segmen konsumen, dan kemampuan menghadirkan telepon dengan cepat ke pasar. Strategi tersebut sangat efektif ketika konsumen membeli perangkat terutama berdasarkan bentuk, ukuran, kamera, daya tahan baterai, harga, dan fitur yang tersedia di dalam perangkat. Namun ketika smartphone mulai berubah menjadi komputer kecil yang hidup melalui aplikasi dan layanan, definisi tentang produk yang unggul ikut berubah. Nokia masih sangat kuat dalam permainan lama ketika pesaing baru mulai memainkan permainan yang berbeda.
Kesalahan Terbesar Nokia Mungkin Bukan Tidak Melihat iPhone, Tetapi Salah Memahami Perubahan Permainan
Ketika iPhone diperkenalkan, banyak perusahaan telepon seluler tidak langsung menganggap bahwa perangkat Apple akan menghancurkan model bisnis lama. Dari sudut pandang industri saat itu, Apple merupakan pendatang baru yang masuk ke pasar yang telah dikuasai pemain-pemain berpengalaman. Namun yang kemudian terbukti penting bukan hanya bentuk iPhone atau teknologi layar sentuhnya, melainkan cara Apple mendefinisikan smartphone sebagai sebuah pengalaman digital yang terintegrasi dengan perangkat lunak, aplikasi, layanan, dan ekosistem. Perubahan tersebut membuat persaingan tidak lagi hanya berlangsung antarprodusen handset, tetapi berkembang menjadi persaingan antarplatform yang berusaha menarik pengguna sekaligus pengembang aplikasi ke dalam lingkungannya masing-masing. Kajian INSEAD mengenai Nokia secara khusus menempatkan pergeseran dari persaingan berbasis produk menuju persaingan berbasis platform sebagai salah satu bagian penting dari cerita kejatuhan perusahaan tersebut.
Yves Doz menjelaskan persoalan tersebut dengan melihat posisi Symbian sebagai salah satu contoh bagaimana keberhasilan masa lalu dapat berubah menjadi hambatan ketika lingkungan industri berubah. Symbian pada awalnya memberikan Nokia keunggulan karena sistem tersebut memungkinkan kemampuan smartphone berkembang di atas perangkat Nokia dan menjadi fondasi penting bagi perusahaan dalam mempertahankan kepemimpinan. Akan tetapi, Symbian dirancang dengan orientasi yang lebih berpusat pada perangkat, sedangkan industri smartphone kemudian bergerak menuju dunia yang semakin berpusat pada platform dan aplikasi. Ketika kebutuhan setiap perangkat semakin kompleks, sistem yang terlalu erat dikaitkan dengan masing-masing produk justru membuat pengembangan menjadi semakin sulit dan memperlambat kemampuan perusahaan menghasilkan perangkat baru.
Penelitian Lamberg dan rekan-rekannya memberikan gambaran yang lebih teknis mengenai persoalan tersebut. Menurut penelitian mereka, arsitektur Symbian tidak cukup modular untuk menghadapi dunia smartphone yang membutuhkan ratusan aplikasi dan perkembangan perangkat yang cepat, sementara berbagai versi Symbian yang tidak sepenuhnya kompatibel membuat apa yang seharusnya menjadi sebuah platform bersama berubah menjadi kumpulan perangkat lunak yang semakin sulit dikelola. Dalam kondisi seperti itu, Nokia memang masih bisa menghasilkan banyak model telepon, tetapi kemampuan menghasilkan banyak model tidak otomatis berarti kemampuan membangun ekosistem yang mampu menarik pengembang dan konsumen secara berkelanjutan. Di sinilah Nokia mulai kehilangan sesuatu yang pada awalnya tidak terlihat dalam angka penjualan handset, yaitu kemampuan menjadikan sistem operasinya sebagai pusat pertumbuhan industri.
Ironisnya, Symbian Pernah Menjadi Senjata Nokia Sebelum Berubah Menjadi Beban
Ada ironi besar dalam kisah tersebut karena Symbian bukanlah teknologi yang sejak awal dianggap gagal. Platform itu justru lahir dari kerja sama sejumlah perusahaan besar di industri telepon seluler pada akhir 1990-an dan pada akhirnya Nokia menjadi kekuatan utama di dalam aliansi tersebut. Case study INSEAD mengenai Symbian menunjukkan bahwa pembentukan platform tersebut pada awalnya merupakan respons terhadap kebutuhan generasi baru perangkat seluler sekaligus upaya menghadapi kemungkinan dominasi Microsoft dalam industri perangkat genggam. Dengan demikian, masalah Nokia bukan karena perusahaan sejak awal tidak memahami pentingnya sistem operasi, tetapi karena sistem yang pernah menjadi sumber keunggulan itu kemudian menjadi terlalu sulit untuk ditransformasikan ketika struktur kompetisi berubah.
Persoalan seperti ini dalam strategi bisnis sering jauh lebih berbahaya daripada kegagalan teknologi biasa karena perusahaan telah menginvestasikan terlalu banyak uang, tenaga, pengetahuan, dan reputasi ke dalam pilihan sebelumnya. Ketika sebuah perusahaan sudah bertahun-tahun membangun kemampuan di atas teknologi tertentu, meninggalkan teknologi tersebut berarti mengakui bahwa sebagian besar investasi masa lalu tidak lagi memberikan keuntungan seperti sebelumnya. Dalam kajiannya mengenai perusahaan-perusahaan yang gagal beradaptasi, INSEAD menyebut fenomena semacam ini sebagai creeping commitments, yaitu keputusan masa lalu yang secara bertahap membuat perusahaan semakin terikat pada jalur tertentu sehingga semakin sulit mengambil arah baru. Nokia dan Symbian digunakan sebagai salah satu contoh bagaimana komitmen terhadap sistem operasi yang sebelumnya memberikan keuntungan akhirnya menghambat pergeseran menuju pendekatan platform dan ekosistem.
Masalah tersebut menjadi semakin berbahaya karena Nokia masih memiliki bisnis besar yang harus terus dijaga. Perusahaan tidak sedang membangun smartphone dari nol sebagai perusahaan rintisan yang dapat mengorbankan bisnis lama demi masa depan, melainkan harus mempertahankan volume penjualan, margin, jaringan operator, pemasok, dan jutaan pelanggan yang sudah menggunakan perangkatnya. Dalam kondisi seperti itu, keputusan yang tampak aman dalam jangka pendek dapat bertentangan dengan kebutuhan strategis jangka panjang. Nokia harus memilih antara melindungi bisnis yang sudah menghasilkan uang atau mengambil risiko besar untuk membangun platform baru yang belum tentu berhasil, dan sejarah kemudian menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua kepentingan tersebut menjadi salah satu persoalan yang sangat mahal.
Nokia Mengalami Masalah yang Tidak Terlihat dari Luar: Para Manajernya Tidak Selalu Bebas Mengatakan Kabar Buruk
Salah satu bagian paling menarik dari kisah Nokia justru tidak berkaitan langsung dengan teknologi. Quy Huy dari INSEAD dan Timo Vuori dari Aalto University meneliti kondisi emosional dan politik internal Nokia selama periode ketika perusahaan menghadapi tekanan dari iPhone dan perubahan industri. Mereka menemukan bahwa ketakutan memainkan peran penting dalam menghambat koordinasi antara manajemen puncak dan manajemen menengah, karena para manajer di berbagai tingkat organisasi memiliki kekhawatiran yang berbeda mengenai posisi, sumber daya, dan masa depan mereka. Dalam situasi seperti itu, informasi buruk yang seharusnya bergerak ke atas organisasi dapat menjadi lebih lambat atau bahkan berubah sebelum sampai kepada pengambil keputusan.
Temuan tersebut menjelaskan sebuah paradoks yang sering terjadi pada perusahaan besar: semakin banyak lapisan manajemen dan semakin tinggi risiko politik internal, semakin besar kemungkinan bahwa pimpinan menerima gambaran yang lebih baik daripada kenyataan yang sedang dihadapi organisasi. Case study INSEAD yang didasarkan pada wawancara dengan eksekutif Nokia menggambarkan bagaimana manajer tingkat atas memiliki ketakutan terhadap persaingan, sementara manajer tingkat menengah juga takut terhadap atasan dan rekan-rekan mereka. Akibatnya, informasi negatif tidak selalu disampaikan secara terbuka, sementara optimisme mengenai kemampuan perusahaan dapat bertahan lebih lama daripada yang seharusnya. Kondisi tersebut menciptakan apa yang oleh para peneliti disebut sebagai temporal myopia, yaitu kecenderungan memberikan perhatian terlalu besar pada kebutuhan dan hasil jangka pendek dibandingkan aktivitas yang mungkin lebih penting untuk masa depan.
Masalah ini membuat kegagalan Nokia jauh lebih kompleks daripada cerita tentang seorang CEO yang mengambil keputusan salah. Bahkan strategi yang bagus sekalipun akan sulit berhasil apabila organisasi tidak mampu menghasilkan informasi yang jujur mengenai keadaan teknologi, produk, dan pasar. Perusahaan yang sedang menghadapi ancaman besar membutuhkan mekanisme yang memungkinkan seorang insinyur, manajer produk, atau eksekutif menengah mengatakan bahwa sebuah proyek gagal tanpa takut kehilangan posisi atau dianggap sebagai pengganggu strategi. Ketika mekanisme tersebut melemah, pimpinan dapat tetap merasa bahwa organisasi masih memiliki waktu untuk memperbaiki keadaan, sementara kompetitor sudah bergerak menuju model bisnis yang baru.
Nokia Sebenarnya Berusaha Berubah, Tetapi Masalahnya: Waktu yang Tersisa Semakin Sedikit
Salah satu alasan mengapa cerita Nokia tidak boleh disederhanakan sebagai perusahaan yang malas berinovasi adalah karena Nokia sebenarnya melakukan berbagai upaya untuk keluar dari masalah Symbian. Perusahaan mengembangkan berbagai perangkat baru, mengambil alih kepemilikan penuh atas Symbian, mengembangkan MeeGo bersama Intel, dan kemudian mencoba membangun arah baru melalui Windows Phone. Penelitian mengenai Nokia menunjukkan bahwa perusahaan terus membuat keputusan dan melakukan eksperimen, tetapi persoalannya adalah berbagai pilihan tersebut tidak menghasilkan respons strategis yang cukup cepat dan koheren untuk mengejar perubahan yang sudah berlangsung.
Di titik inilah istilah "terlambat" harus dipahami dengan lebih hati-hati. Terlambat bukan berarti Nokia baru menyadari keberadaan iPhone bertahun-tahun setelah iPhone muncul, melainkan bahwa perusahaan membutuhkan terlalu banyak waktu untuk mengubah teknologi, organisasi, strategi produk, dan ekosistemnya menjadi satu arah yang mampu bersaing. Yves Doz dan Keeley Wilson menilai bahwa upaya Nokia beralih menuju sistem operasi baru yang dapat menjadi platform ekosistem berlangsung terlalu lambat dan setengah hati sehingga ketika alternatif seperti Android dan iOS telah memenangkan pertempuran ekosistem, Nokia hampir tidak mempunyai ruang yang cukup untuk membangun ekosistem ketiga yang kredibel.
Persoalannya semakin jelas apabila kita melihat sifat kompetisi platform. Sebuah perusahaan tidak hanya perlu menjual smartphone kepada konsumen, tetapi juga harus meyakinkan pengembang aplikasi untuk membuat aplikasi, operator untuk mendukung perangkat, produsen komponen untuk menyesuaikan teknologi, dan pengguna untuk tetap berada di dalam ekosistem tersebut. Begitu jumlah pengguna dan aplikasi pada sebuah platform meningkat, muncul efek jaringan yang membuat platform tersebut semakin menarik bagi pengguna baru dan pengembang baru. Artinya, perusahaan yang terlambat masuk tidak hanya mengejar teknologi pesaing, tetapi harus mengejar seluruh jaringan yang sudah terbentuk di sekitar teknologi tersebut.
Lalu Mengapa Nokia Memilih Windows Phone, Bukan Android?
Keputusan paling kontroversial dalam fase terakhir Nokia di pasar smartphone adalah ketika perusahaan memilih bekerja sama dengan Microsoft dan menjadikan Windows Phone sebagai platform utama. Dari sudut pandang tertentu, pilihan tersebut dapat dipahami karena Nokia membutuhkan sistem operasi yang dapat memberikan diferensiasi sekaligus memungkinkan perusahaan membangun hubungan strategis dengan Microsoft. Namun dari perspektif lain, keputusan tersebut berarti Nokia meninggalkan kesempatan untuk masuk ke ekosistem Android yang sedang berkembang sangat cepat. Yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah bahwa penelitian mengenai Nokia menunjukkan bahwa Android dan Windows memang termasuk alternatif utama yang dipertimbangkan, sehingga keputusan tersebut bukan sekadar pilihan tanpa alternatif.
Quy Huy dan Timo Vuori menjelaskan bahwa faktor emosional dan organisasi turut memengaruhi keputusan tersebut. Menurut kajian mereka, ketakutan dan persepsi internal mengenai hubungan CEO Stephen Elop dengan Microsoft membuat sebagian manajer merasa bahwa keputusan mungkin sudah diarahkan sebelum proses perdebatan strategis benar-benar selesai. Mereka juga mencatat bahwa konsultan McKinsey pada saat itu memberikan pandangan yang berbeda, sementara manajemen membingkai pilihan Windows sebagai langkah untuk menghentikan pendarahan. Masalahnya, pilihan yang dimaksudkan sebagai tindakan penyelamatan sementara tersebut kemudian justru menjadi keputusan strategis yang sangat menentukan masa depan perusahaan.
Pilihan Windows Phone akhirnya membuat Nokia berada pada posisi yang sangat sulit karena perusahaan harus membangun kembali ekosistem sementara Android sudah menarik banyak produsen perangkat dan pengembang aplikasi. Doz dan Wilson kemudian menyimpulkan bahwa ketika Nokia akhirnya mencoba membangun ekosistemnya sendiri melalui kerja sama dengan Microsoft, Apple dan Google sudah lebih dahulu memenangkan pertarungan ekosistem sehingga ruang untuk membangun platform ketiga menjadi sangat terbatas. Dengan kata lain, Nokia tidak hanya terlambat membuat smartphone yang kompetitif, tetapi terlambat menentukan di ekosistem mana masa depan smartphone akan berlangsung.
Android Tidak Harus Mengalahkan Nokia Satu per Satu, Karena Android Mengubah Cara Kompetisi Berlangsung
Keunggulan Android bukan hanya terletak pada satu model smartphone tertentu yang lebih baik daripada satu model Nokia tertentu. Kekuatan Android berada pada kemampuannya menjadi platform yang dapat digunakan oleh banyak produsen sekaligus, sehingga perkembangan ekosistemnya tidak bergantung pada satu perusahaan pembuat perangkat. Model tersebut memungkinkan berbagai produsen memasuki pasar dengan perangkat dalam berbagai kelas harga, spesifikasi, ukuran, dan wilayah pemasaran, sementara platform Android tetap menjadi fondasi perangkat lunaknya. Penelitian mengenai kegagalan Nokia menunjukkan bahwa perubahan menuju persaingan platform inilah yang membuat struktur industri smartphone berbeda secara fundamental dari pasar telepon seluler sebelumnya.
Bagi Nokia, situasi tersebut menciptakan lawan yang sangat berbeda dari perusahaan handset tradisional. Nokia dapat mengalahkan produsen telepon tertentu melalui desain, distribusi, harga, kamera, atau kualitas perangkat, tetapi strategi seperti itu tidak cukup untuk menghadapi platform yang memungkinkan banyak produsen berkompetisi secara bersamaan. Android pada akhirnya membantu membentuk ekosistem di mana Samsung, HTC, Motorola, LG dan berbagai produsen lainnya dapat mengembangkan perangkat masing-masing sambil tetap memperoleh manfaat dari platform yang sama. Nokia menghadapi bukan satu lawan, melainkan sebuah jaringan perusahaan yang semakin memperluas jangkauan platform pesaing.
Inilah alasan mengapa membandingkan Nokia dengan satu model iPhone saja sebenarnya kurang tepat. Apple mengubah standar pengalaman pengguna dan membangun ekosistem yang sangat terintegrasi, sedangkan Google dan para mitra Android memperluas alternatif tersebut ke banyak produsen dan segmen harga. Nokia berada di tengah-tengah perubahan itu dengan platform yang semakin sulit dikembangkan dan organisasi yang semakin sulit bergerak secara serempak. Penelitian akademik mengenai Nokia bahkan menekankan bahwa masalah arsitektur Symbian membuat pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras terlalu terikat satu sama lain, sementara model Android jauh lebih mendukung pengembangan platform lintas perangkat.
Ketika Nokia Memilih Microsoft, Kerusakannya Sudah Terlalu Dalam
Pada tahap ketika Nokia mengumumkan kerja sama strategis dengan Microsoft, persoalannya sudah bukan sekadar bagaimana membuat smartphone baru yang bagus. Perusahaan harus memulihkan kepercayaan konsumen, meyakinkan pengembang aplikasi, mempertahankan operator, memperbaiki persepsi pasar, dan sekaligus mengembangkan perangkat keras serta perangkat lunak yang mampu bersaing. Itu merupakan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada meluncurkan satu produk unggulan. Penelitian INSEAD mengenai periode tersebut menunjukkan bahwa setelah aliansi dengan Microsoft diumumkan, kapitalisasi pasar Nokia turun sekitar 50 persen antara Januari 2011 dan Januari 2012, menggambarkan betapa beratnya reaksi pasar terhadap arah baru tersebut.
Keputusan tersebut juga menciptakan persoalan transisi karena Nokia harus meninggalkan Symbian dan mengalihkan perhatian kepada Windows Phone sementara ekosistem baru tersebut belum memiliki kekuatan yang sama dengan Android dan iOS. Dalam dunia smartphone, waktu sangat penting karena pengembang aplikasi akan cenderung memilih platform dengan jumlah pengguna yang besar, sedangkan konsumen akan lebih tertarik kepada platform yang mempunyai banyak aplikasi. Ini menciptakan lingkaran pertumbuhan yang sangat kuat bagi platform yang sudah berada di depan dan membuat perusahaan yang tertinggal harus mengeluarkan sumber daya jauh lebih besar hanya untuk mengejar posisi yang sebelumnya sudah dimiliki pesaing.
Penelitian The Curse of Agility menyimpulkan bahwa serangkaian keputusan teknologi dan desain organisasi Nokia secara bersama-sama menjadi faktor yang cukup untuk membawa perusahaan menuju pengabaian bisnis telepon selulernya. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa kejatuhan Nokia bukan akibat satu kesalahan tunggal, melainkan akumulasi keputusan yang masing-masing mungkin terlihat dapat dibenarkan pada saat dibuat tetapi menjadi sangat berbahaya ketika dilihat sebagai sebuah rangkaian sejarah.
Nokia Akhirnya Menjual Bisnis Ponselnya kepada Microsoft
Pada akhirnya, perusahaan yang pernah menjadi simbol kekuatan industri telepon seluler tersebut tidak berhasil mempertahankan bisnis perangkatnya sebagai perusahaan independen. Microsoft menyelesaikan akuisisi sebagian besar bisnis Nokia Devices and Services pada 25 April 2014 dan memasukkan bisnis tersebut ke dalam segmen Phone Hardware miliknya. Dalam laporan tahunan 2014, Microsoft mencatat total harga transaksi sekitar US$9,5 miliar, termasuk sekitar US$7,1 miliar dalam bentuk kas dan transaksi terkait pembelian kembali surat utang konversi Nokia. Dengan transaksi tersebut, babak Nokia sebagai salah satu pemain utama handset global praktis berakhir.
Namun menariknya, kisah Nokia tidak berakhir sebagai kisah perusahaan yang sepenuhnya hancur. Setelah meninggalkan bisnis handset, Nokia mengalihkan fokusnya kembali kepada bisnis jaringan telekomunikasi dan pada 2016 menyelesaikan akuisisi Alcatel-Lucent senilai sekitar US$16,6 miliar. Para profesor INSEAD yang mempelajari pemulihan Nokia melihat perubahan tersebut sebagai contoh bagaimana perusahaan yang hampir kehilangan arah masih dapat menemukan jalan keluar apabila mampu melakukan perubahan strategis yang benar-benar mendasar. Artinya, yang mati sebenarnya bukan seluruh Nokia, melainkan model bisnis Nokia sebagai raksasa telepon seluler.
Perbedaan tersebut penting karena menunjukkan bahwa perusahaan besar tidak selalu harus mempertahankan bisnis yang dahulu membuatnya terkenal. Dalam kasus Nokia, mempertahankan identitas sebagai produsen handset mungkin justru akan membuat perusahaan terus menghabiskan sumber daya untuk mengejar pasar yang sudah berubah. Keputusan untuk meninggalkan bisnis ponsel kemudian memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk membangun kembali posisi di sektor jaringan telekomunikasi, bidang yang masih sesuai dengan kompetensi teknologi dan infrastrukturnya.
Jadi, Apa Sebenarnya Kesalahan Terbesar Nokia?
Jika semua faktor tersebut disatukan, akan terlalu mudah mengatakan bahwa kesalahan Nokia adalah tidak membuat ponsel seperti iPhone atau tidak menggunakan Android sejak awal. Kesimpulan seperti itu menarik tetapi terlalu sederhana karena mengabaikan persoalan organisasi, teknologi, dan strategi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Penelitian akademik menunjukkan bahwa Nokia sebenarnya mempunyai pengetahuan dan kemampuan teknis yang besar, tetapi perusahaan mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan teknologi, menyelaraskan kepentingan organisasi, mengelola informasi negatif, dan bergerak cukup cepat ketika industri berubah dari persaingan handset menuju persaingan platform.
Yves Doz melihat kasus Nokia sebagai contoh klasik mengenai bagaimana kesuksesan dapat menumbuhkan konservatisme dan hubris. Ketika sebuah perusahaan berhasil dalam jangka panjang, cara berpikir yang sebelumnya menghasilkan kemenangan dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran permanen. Manajemen kemudian cenderung memperbaiki sistem yang sudah ada daripada mempertanyakan apakah sistem tersebut masih cocok dengan dunia yang baru. Dalam kasus Nokia, keberhasilan Symbian, kekuatan merek, jaringan distribusi, dan dominasi handset semuanya merupakan aset yang sangat berharga, tetapi aset yang sama juga dapat membuat organisasi semakin sulit menerima kenyataan bahwa aturan permainan telah berubah.
Para peneliti dari University of Jyväskylä juga memberikan pelajaran yang tidak kalah penting karena mereka memilih melihat kegagalan Nokia melalui serangkaian pilihan konkret, bukan sekadar karakter psikologis para pemimpinnya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dapat mengalami kehancuran bukan karena para pemimpinnya bodoh atau tidak memiliki teknologi, tetapi karena organisasi membuat serangkaian keputusan yang tidak lagi cocok dengan arah perkembangan industri. Kesalahan strategis yang kecil mungkin masih dapat diperbaiki, tetapi ketika kesalahan tersebut saling memperkuat selama bertahun-tahun, pilihan untuk berbelok menjadi semakin mahal dan semakin sulit dilakukan.
Pelajaran Nokia untuk Perusahaan Besar: Bahaya Terbesar Bisa Datang Saat Perusahaan Sedang Berjaya
Kisah Nokia akhirnya memberikan sebuah paradoks yang jauh lebih penting daripada sekadar cerita tentang persaingan Apple, Google, dan Nokia. Perusahaan tidak selalu jatuh ketika mereka lemah; perusahaan juga dapat mulai jatuh ketika mereka terlalu sukses dan tidak lagi mempertanyakan asumsi yang selama bertahun-tahun membuat mereka berhasil. Ketika pasar masih memberikan keuntungan, organisasi cenderung menganggap bahwa strategi yang ada masih benar, sementara tanda-tanda perubahan di luar organisasi dianggap sebagai gangguan yang belum cukup besar untuk mengubah arah perusahaan. Nokia memberikan contoh ekstrem tentang bagaimana situasi tersebut dapat berlangsung sampai akhirnya perusahaan menyadari bahwa pilihan yang tersedia sudah jauh lebih sedikit daripada beberapa tahun sebelumnya.
Pelajaran lainnya adalah bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang lebih canggih. Dalam industri yang berubah cepat, inovasi juga berarti kemampuan untuk memahami di mana nilai ekonomi sedang berpindah. Nokia mempunyai teknologi, tetapi nilai dalam industri smartphone semakin banyak berpindah menuju perangkat lunak, aplikasi, platform, dan ekosistem. Perusahaan yang mampu melihat perpindahan tersebut lebih awal memiliki kesempatan untuk mengubah struktur bisnisnya sebelum pesaing mengambil posisi strategis. Sebaliknya, perusahaan yang hanya memperbaiki produk lama dapat terlihat sangat sibuk berinovasi sekaligus sebenarnya semakin jauh dari arah perubahan industri.
Dan mungkin inilah bagian paling mengejutkan dari seluruh cerita Nokia: iPhone tidak menghancurkan Nokia dalam satu malam, dan Android juga tidak mengambil pasar Nokia hanya karena semua perangkat Android lebih bagus daripada perangkat Nokia. Kehancuran itu merupakan hasil dari proses yang jauh lebih panjang, ketika perubahan teknologi bertemu dengan struktur organisasi yang sulit bergerak, keputusan yang terlambat, platform yang semakin tidak sesuai, konflik kepentingan internal, ketakutan menyampaikan informasi buruk, dan akhirnya pilihan strategis yang membuat Nokia harus mengejar ekosistem yang sudah lebih dahulu dikuasai pesaing. Karena itu, ketika seseorang bertanya mengapa Nokia kehilangan pasar smartphone, jawaban yang paling masuk akal bukanlah "karena iPhone", melainkan karena Nokia gagal melakukan perubahan fundamental sebelum perubahan tersebut menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
Pada akhirnya, Nokia bukan contoh perusahaan yang tidak memiliki teknologi, bukan pula sekadar contoh perusahaan yang kalah karena satu produk pesaing. Nokia adalah contoh tentang bagaimana sebuah perusahaan yang sangat sukses dapat terjebak oleh keberhasilannya sendiri ketika struktur organisasi, teknologi, dan cara membaca pasar tidak lagi bergerak secepat perubahan lingkungan. Apple mengubah cara konsumen memandang smartphone, Google dan Android mengubah struktur kompetisi melalui platform, sementara Nokia terlalu lama berusaha menyelesaikan masalah baru dengan sebagian cara berpikir yang dibentuk oleh kemenangan masa lalunya. Ketika perusahaan akhirnya benar-benar bergerak, medan persaingannya sudah berubah, ekosistem sudah terbentuk, dan biaya untuk mengejar ketertinggalan sudah menjadi terlalu besar. Itulah sebabnya kisah Nokia jauh lebih berharga jika dibaca bukan sebagai cerita tentang perusahaan yang dikalahkan iPhone, melainkan sebagai peringatan bahwa perusahaan terbesar sekalipun dapat kehilangan masa depannya bukan karena tidak mampu berinovasi, tetapi karena terlambat menyadari inovasi seperti apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.
Referensi
Yves L. Doz, Emeritus Professor of Strategic Management di INSEAD yang bersama Keeley Wilson meneliti perjalanan Nokia melalui wawancara dengan para manajer senior perusahaan tersebut, bahkan menilai bahwa terlalu mudah menyalahkan Apple dan iPhone sebagai penyebab utama kehancuran Nokia. Menurut kajian mereka, Nokia sebenarnya sudah mengalami krisis strategis dan organisasional sebelum kinerja keuangannya menunjukkan bahwa perusahaan sedang berada dalam masalah serius. Temuan tersebut penting karena mengubah cara kita melihat kasus Nokia: perusahaan itu bukan tiba-tiba kalah setelah satu produk pesaing muncul, melainkan secara perlahan kehilangan kemampuan untuk merespons perubahan industri yang sebenarnya sedang berlangsung di depan mata mereka sendiri.
Pertanyaan yang kemudian jauh lebih menarik bukan lagi mengapa Nokia kalah dari iPhone, melainkan mengapa perusahaan sebesar Nokia tidak mampu mengubah dirinya ketika tanda-tanda perubahan sudah mulai terlihat? Jawabannya ternyata membawa kita pada Symbian, struktur organisasi yang semakin rumit, pertarungan kepentingan internal, ketakutan para manajer untuk menyampaikan kabar buruk, keterlambatan membangun ekosistem aplikasi, sampai keputusan strategis yang akhirnya membawa Nokia bersekutu dengan Microsoft. Ironisnya, sebagian keputusan yang pada saat itu terlihat masuk akal justru menjadi rangkaian keputusan yang semakin mempersempit jalan keluar Nokia.
Nokia Bukan Tidak Mampu Membuat Smartphone, Justru Itu yang Membuat Kejatuhannya Menarik
Kesalahan pertama dalam memahami kejatuhan Nokia adalah menganggap perusahaan tersebut tidak mampu membuat smartphone yang bagus. Anggapan itu terlalu sederhana karena Nokia sudah lama mengembangkan perangkat yang mempunyai kemampuan jauh melampaui telepon seluler biasa sebelum iPhone diperkenalkan. Perusahaan tersebut mempunyai pengalaman perangkat keras, kamera, konektivitas, sistem operasi, jaringan distribusi internasional, merek yang sangat kuat, dan basis pengguna yang sangat besar. Dengan modal seperti itu, Nokia seharusnya memiliki kesempatan besar untuk menjadi salah satu pemenang revolusi smartphone, tetapi persoalannya adalah industri yang sedang terbentuk ternyata tidak lagi memberikan hadiah terbesar kepada perusahaan yang hanya mampu membuat perangkat keras dengan baik. Kompetisi mulai berpindah ke wilayah perangkat lunak, aplikasi, platform, dan ekosistem yang membuat hubungan antara produsen, pengembang aplikasi, dan pengguna menjadi jauh lebih penting daripada sekadar spesifikasi perangkat.
Di sinilah penelitian akademik mengenai Nokia menjadi sangat menarik karena para peneliti tidak hanya melihat produk yang gagal, tetapi juga keputusan teknologi dan desain organisasi yang membentuk kegagalan tersebut. Penelitian Juha-Antti Lamberg dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Business History menyimpulkan bahwa kegagalan Nokia tidak cukup dijelaskan oleh satu sifat seperti kesombongan atau rasa takut, melainkan oleh serangkaian pilihan teknologi dan organisasi yang secara bertahap membuat perusahaan semakin sulit merespons Apple dan Google. Mereka menemukan bahwa Nokia terus menghadapi persoalan dalam menentukan apakah perusahaan harus mengejar strategi berbiaya rendah, meningkatkan kemampuan smartphone kelas atas, atau mengejar solusi keamanan untuk pasar perusahaan, sehingga arah pengembangan teknologi di dalam organisasi tidak selalu bergerak menuju tujuan yang sama.
Masalah tersebut menjadi semakin serius karena keunggulan Nokia pada era telepon seluler konvensional justru dapat menciptakan cara berpikir yang sulit ditinggalkan. Selama bertahun-tahun, Nokia berhasil melalui pendekatan yang menekankan desain perangkat, efisiensi produksi, berbagai model untuk berbagai segmen konsumen, dan kemampuan menghadirkan telepon dengan cepat ke pasar. Strategi tersebut sangat efektif ketika konsumen membeli perangkat terutama berdasarkan bentuk, ukuran, kamera, daya tahan baterai, harga, dan fitur yang tersedia di dalam perangkat. Namun ketika smartphone mulai berubah menjadi komputer kecil yang hidup melalui aplikasi dan layanan, definisi tentang produk yang unggul ikut berubah. Nokia masih sangat kuat dalam permainan lama ketika pesaing baru mulai memainkan permainan yang berbeda.
Kesalahan Terbesar Nokia Mungkin Bukan Tidak Melihat iPhone, Tetapi Salah Memahami Perubahan Permainan
Ketika iPhone diperkenalkan, banyak perusahaan telepon seluler tidak langsung menganggap bahwa perangkat Apple akan menghancurkan model bisnis lama. Dari sudut pandang industri saat itu, Apple merupakan pendatang baru yang masuk ke pasar yang telah dikuasai pemain-pemain berpengalaman. Namun yang kemudian terbukti penting bukan hanya bentuk iPhone atau teknologi layar sentuhnya, melainkan cara Apple mendefinisikan smartphone sebagai sebuah pengalaman digital yang terintegrasi dengan perangkat lunak, aplikasi, layanan, dan ekosistem. Perubahan tersebut membuat persaingan tidak lagi hanya berlangsung antarprodusen handset, tetapi berkembang menjadi persaingan antarplatform yang berusaha menarik pengguna sekaligus pengembang aplikasi ke dalam lingkungannya masing-masing. Kajian INSEAD mengenai Nokia secara khusus menempatkan pergeseran dari persaingan berbasis produk menuju persaingan berbasis platform sebagai salah satu bagian penting dari cerita kejatuhan perusahaan tersebut.
Yves Doz menjelaskan persoalan tersebut dengan melihat posisi Symbian sebagai salah satu contoh bagaimana keberhasilan masa lalu dapat berubah menjadi hambatan ketika lingkungan industri berubah. Symbian pada awalnya memberikan Nokia keunggulan karena sistem tersebut memungkinkan kemampuan smartphone berkembang di atas perangkat Nokia dan menjadi fondasi penting bagi perusahaan dalam mempertahankan kepemimpinan. Akan tetapi, Symbian dirancang dengan orientasi yang lebih berpusat pada perangkat, sedangkan industri smartphone kemudian bergerak menuju dunia yang semakin berpusat pada platform dan aplikasi. Ketika kebutuhan setiap perangkat semakin kompleks, sistem yang terlalu erat dikaitkan dengan masing-masing produk justru membuat pengembangan menjadi semakin sulit dan memperlambat kemampuan perusahaan menghasilkan perangkat baru.
Penelitian Lamberg dan rekan-rekannya memberikan gambaran yang lebih teknis mengenai persoalan tersebut. Menurut penelitian mereka, arsitektur Symbian tidak cukup modular untuk menghadapi dunia smartphone yang membutuhkan ratusan aplikasi dan perkembangan perangkat yang cepat, sementara berbagai versi Symbian yang tidak sepenuhnya kompatibel membuat apa yang seharusnya menjadi sebuah platform bersama berubah menjadi kumpulan perangkat lunak yang semakin sulit dikelola. Dalam kondisi seperti itu, Nokia memang masih bisa menghasilkan banyak model telepon, tetapi kemampuan menghasilkan banyak model tidak otomatis berarti kemampuan membangun ekosistem yang mampu menarik pengembang dan konsumen secara berkelanjutan. Di sinilah Nokia mulai kehilangan sesuatu yang pada awalnya tidak terlihat dalam angka penjualan handset, yaitu kemampuan menjadikan sistem operasinya sebagai pusat pertumbuhan industri.
Ironisnya, Symbian Pernah Menjadi Senjata Nokia Sebelum Berubah Menjadi Beban
Ada ironi besar dalam kisah tersebut karena Symbian bukanlah teknologi yang sejak awal dianggap gagal. Platform itu justru lahir dari kerja sama sejumlah perusahaan besar di industri telepon seluler pada akhir 1990-an dan pada akhirnya Nokia menjadi kekuatan utama di dalam aliansi tersebut. Case study INSEAD mengenai Symbian menunjukkan bahwa pembentukan platform tersebut pada awalnya merupakan respons terhadap kebutuhan generasi baru perangkat seluler sekaligus upaya menghadapi kemungkinan dominasi Microsoft dalam industri perangkat genggam. Dengan demikian, masalah Nokia bukan karena perusahaan sejak awal tidak memahami pentingnya sistem operasi, tetapi karena sistem yang pernah menjadi sumber keunggulan itu kemudian menjadi terlalu sulit untuk ditransformasikan ketika struktur kompetisi berubah.
Persoalan seperti ini dalam strategi bisnis sering jauh lebih berbahaya daripada kegagalan teknologi biasa karena perusahaan telah menginvestasikan terlalu banyak uang, tenaga, pengetahuan, dan reputasi ke dalam pilihan sebelumnya. Ketika sebuah perusahaan sudah bertahun-tahun membangun kemampuan di atas teknologi tertentu, meninggalkan teknologi tersebut berarti mengakui bahwa sebagian besar investasi masa lalu tidak lagi memberikan keuntungan seperti sebelumnya. Dalam kajiannya mengenai perusahaan-perusahaan yang gagal beradaptasi, INSEAD menyebut fenomena semacam ini sebagai creeping commitments, yaitu keputusan masa lalu yang secara bertahap membuat perusahaan semakin terikat pada jalur tertentu sehingga semakin sulit mengambil arah baru. Nokia dan Symbian digunakan sebagai salah satu contoh bagaimana komitmen terhadap sistem operasi yang sebelumnya memberikan keuntungan akhirnya menghambat pergeseran menuju pendekatan platform dan ekosistem.
Masalah tersebut menjadi semakin berbahaya karena Nokia masih memiliki bisnis besar yang harus terus dijaga. Perusahaan tidak sedang membangun smartphone dari nol sebagai perusahaan rintisan yang dapat mengorbankan bisnis lama demi masa depan, melainkan harus mempertahankan volume penjualan, margin, jaringan operator, pemasok, dan jutaan pelanggan yang sudah menggunakan perangkatnya. Dalam kondisi seperti itu, keputusan yang tampak aman dalam jangka pendek dapat bertentangan dengan kebutuhan strategis jangka panjang. Nokia harus memilih antara melindungi bisnis yang sudah menghasilkan uang atau mengambil risiko besar untuk membangun platform baru yang belum tentu berhasil, dan sejarah kemudian menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua kepentingan tersebut menjadi salah satu persoalan yang sangat mahal.
Nokia Mengalami Masalah yang Tidak Terlihat dari Luar: Para Manajernya Tidak Selalu Bebas Mengatakan Kabar Buruk
Salah satu bagian paling menarik dari kisah Nokia justru tidak berkaitan langsung dengan teknologi. Quy Huy dari INSEAD dan Timo Vuori dari Aalto University meneliti kondisi emosional dan politik internal Nokia selama periode ketika perusahaan menghadapi tekanan dari iPhone dan perubahan industri. Mereka menemukan bahwa ketakutan memainkan peran penting dalam menghambat koordinasi antara manajemen puncak dan manajemen menengah, karena para manajer di berbagai tingkat organisasi memiliki kekhawatiran yang berbeda mengenai posisi, sumber daya, dan masa depan mereka. Dalam situasi seperti itu, informasi buruk yang seharusnya bergerak ke atas organisasi dapat menjadi lebih lambat atau bahkan berubah sebelum sampai kepada pengambil keputusan.
Temuan tersebut menjelaskan sebuah paradoks yang sering terjadi pada perusahaan besar: semakin banyak lapisan manajemen dan semakin tinggi risiko politik internal, semakin besar kemungkinan bahwa pimpinan menerima gambaran yang lebih baik daripada kenyataan yang sedang dihadapi organisasi. Case study INSEAD yang didasarkan pada wawancara dengan eksekutif Nokia menggambarkan bagaimana manajer tingkat atas memiliki ketakutan terhadap persaingan, sementara manajer tingkat menengah juga takut terhadap atasan dan rekan-rekan mereka. Akibatnya, informasi negatif tidak selalu disampaikan secara terbuka, sementara optimisme mengenai kemampuan perusahaan dapat bertahan lebih lama daripada yang seharusnya. Kondisi tersebut menciptakan apa yang oleh para peneliti disebut sebagai temporal myopia, yaitu kecenderungan memberikan perhatian terlalu besar pada kebutuhan dan hasil jangka pendek dibandingkan aktivitas yang mungkin lebih penting untuk masa depan.
Masalah ini membuat kegagalan Nokia jauh lebih kompleks daripada cerita tentang seorang CEO yang mengambil keputusan salah. Bahkan strategi yang bagus sekalipun akan sulit berhasil apabila organisasi tidak mampu menghasilkan informasi yang jujur mengenai keadaan teknologi, produk, dan pasar. Perusahaan yang sedang menghadapi ancaman besar membutuhkan mekanisme yang memungkinkan seorang insinyur, manajer produk, atau eksekutif menengah mengatakan bahwa sebuah proyek gagal tanpa takut kehilangan posisi atau dianggap sebagai pengganggu strategi. Ketika mekanisme tersebut melemah, pimpinan dapat tetap merasa bahwa organisasi masih memiliki waktu untuk memperbaiki keadaan, sementara kompetitor sudah bergerak menuju model bisnis yang baru.
Nokia Sebenarnya Berusaha Berubah, Tetapi Masalahnya: Waktu yang Tersisa Semakin Sedikit
Salah satu alasan mengapa cerita Nokia tidak boleh disederhanakan sebagai perusahaan yang malas berinovasi adalah karena Nokia sebenarnya melakukan berbagai upaya untuk keluar dari masalah Symbian. Perusahaan mengembangkan berbagai perangkat baru, mengambil alih kepemilikan penuh atas Symbian, mengembangkan MeeGo bersama Intel, dan kemudian mencoba membangun arah baru melalui Windows Phone. Penelitian mengenai Nokia menunjukkan bahwa perusahaan terus membuat keputusan dan melakukan eksperimen, tetapi persoalannya adalah berbagai pilihan tersebut tidak menghasilkan respons strategis yang cukup cepat dan koheren untuk mengejar perubahan yang sudah berlangsung.
Di titik inilah istilah "terlambat" harus dipahami dengan lebih hati-hati. Terlambat bukan berarti Nokia baru menyadari keberadaan iPhone bertahun-tahun setelah iPhone muncul, melainkan bahwa perusahaan membutuhkan terlalu banyak waktu untuk mengubah teknologi, organisasi, strategi produk, dan ekosistemnya menjadi satu arah yang mampu bersaing. Yves Doz dan Keeley Wilson menilai bahwa upaya Nokia beralih menuju sistem operasi baru yang dapat menjadi platform ekosistem berlangsung terlalu lambat dan setengah hati sehingga ketika alternatif seperti Android dan iOS telah memenangkan pertempuran ekosistem, Nokia hampir tidak mempunyai ruang yang cukup untuk membangun ekosistem ketiga yang kredibel.
Persoalannya semakin jelas apabila kita melihat sifat kompetisi platform. Sebuah perusahaan tidak hanya perlu menjual smartphone kepada konsumen, tetapi juga harus meyakinkan pengembang aplikasi untuk membuat aplikasi, operator untuk mendukung perangkat, produsen komponen untuk menyesuaikan teknologi, dan pengguna untuk tetap berada di dalam ekosistem tersebut. Begitu jumlah pengguna dan aplikasi pada sebuah platform meningkat, muncul efek jaringan yang membuat platform tersebut semakin menarik bagi pengguna baru dan pengembang baru. Artinya, perusahaan yang terlambat masuk tidak hanya mengejar teknologi pesaing, tetapi harus mengejar seluruh jaringan yang sudah terbentuk di sekitar teknologi tersebut.
Lalu Mengapa Nokia Memilih Windows Phone, Bukan Android?
Keputusan paling kontroversial dalam fase terakhir Nokia di pasar smartphone adalah ketika perusahaan memilih bekerja sama dengan Microsoft dan menjadikan Windows Phone sebagai platform utama. Dari sudut pandang tertentu, pilihan tersebut dapat dipahami karena Nokia membutuhkan sistem operasi yang dapat memberikan diferensiasi sekaligus memungkinkan perusahaan membangun hubungan strategis dengan Microsoft. Namun dari perspektif lain, keputusan tersebut berarti Nokia meninggalkan kesempatan untuk masuk ke ekosistem Android yang sedang berkembang sangat cepat. Yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah bahwa penelitian mengenai Nokia menunjukkan bahwa Android dan Windows memang termasuk alternatif utama yang dipertimbangkan, sehingga keputusan tersebut bukan sekadar pilihan tanpa alternatif.
Quy Huy dan Timo Vuori menjelaskan bahwa faktor emosional dan organisasi turut memengaruhi keputusan tersebut. Menurut kajian mereka, ketakutan dan persepsi internal mengenai hubungan CEO Stephen Elop dengan Microsoft membuat sebagian manajer merasa bahwa keputusan mungkin sudah diarahkan sebelum proses perdebatan strategis benar-benar selesai. Mereka juga mencatat bahwa konsultan McKinsey pada saat itu memberikan pandangan yang berbeda, sementara manajemen membingkai pilihan Windows sebagai langkah untuk menghentikan pendarahan. Masalahnya, pilihan yang dimaksudkan sebagai tindakan penyelamatan sementara tersebut kemudian justru menjadi keputusan strategis yang sangat menentukan masa depan perusahaan.
Pilihan Windows Phone akhirnya membuat Nokia berada pada posisi yang sangat sulit karena perusahaan harus membangun kembali ekosistem sementara Android sudah menarik banyak produsen perangkat dan pengembang aplikasi. Doz dan Wilson kemudian menyimpulkan bahwa ketika Nokia akhirnya mencoba membangun ekosistemnya sendiri melalui kerja sama dengan Microsoft, Apple dan Google sudah lebih dahulu memenangkan pertarungan ekosistem sehingga ruang untuk membangun platform ketiga menjadi sangat terbatas. Dengan kata lain, Nokia tidak hanya terlambat membuat smartphone yang kompetitif, tetapi terlambat menentukan di ekosistem mana masa depan smartphone akan berlangsung.
Android Tidak Harus Mengalahkan Nokia Satu per Satu, Karena Android Mengubah Cara Kompetisi Berlangsung
Keunggulan Android bukan hanya terletak pada satu model smartphone tertentu yang lebih baik daripada satu model Nokia tertentu. Kekuatan Android berada pada kemampuannya menjadi platform yang dapat digunakan oleh banyak produsen sekaligus, sehingga perkembangan ekosistemnya tidak bergantung pada satu perusahaan pembuat perangkat. Model tersebut memungkinkan berbagai produsen memasuki pasar dengan perangkat dalam berbagai kelas harga, spesifikasi, ukuran, dan wilayah pemasaran, sementara platform Android tetap menjadi fondasi perangkat lunaknya. Penelitian mengenai kegagalan Nokia menunjukkan bahwa perubahan menuju persaingan platform inilah yang membuat struktur industri smartphone berbeda secara fundamental dari pasar telepon seluler sebelumnya.
Bagi Nokia, situasi tersebut menciptakan lawan yang sangat berbeda dari perusahaan handset tradisional. Nokia dapat mengalahkan produsen telepon tertentu melalui desain, distribusi, harga, kamera, atau kualitas perangkat, tetapi strategi seperti itu tidak cukup untuk menghadapi platform yang memungkinkan banyak produsen berkompetisi secara bersamaan. Android pada akhirnya membantu membentuk ekosistem di mana Samsung, HTC, Motorola, LG dan berbagai produsen lainnya dapat mengembangkan perangkat masing-masing sambil tetap memperoleh manfaat dari platform yang sama. Nokia menghadapi bukan satu lawan, melainkan sebuah jaringan perusahaan yang semakin memperluas jangkauan platform pesaing.
Inilah alasan mengapa membandingkan Nokia dengan satu model iPhone saja sebenarnya kurang tepat. Apple mengubah standar pengalaman pengguna dan membangun ekosistem yang sangat terintegrasi, sedangkan Google dan para mitra Android memperluas alternatif tersebut ke banyak produsen dan segmen harga. Nokia berada di tengah-tengah perubahan itu dengan platform yang semakin sulit dikembangkan dan organisasi yang semakin sulit bergerak secara serempak. Penelitian akademik mengenai Nokia bahkan menekankan bahwa masalah arsitektur Symbian membuat pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras terlalu terikat satu sama lain, sementara model Android jauh lebih mendukung pengembangan platform lintas perangkat.
Ketika Nokia Memilih Microsoft, Kerusakannya Sudah Terlalu Dalam
Pada tahap ketika Nokia mengumumkan kerja sama strategis dengan Microsoft, persoalannya sudah bukan sekadar bagaimana membuat smartphone baru yang bagus. Perusahaan harus memulihkan kepercayaan konsumen, meyakinkan pengembang aplikasi, mempertahankan operator, memperbaiki persepsi pasar, dan sekaligus mengembangkan perangkat keras serta perangkat lunak yang mampu bersaing. Itu merupakan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada meluncurkan satu produk unggulan. Penelitian INSEAD mengenai periode tersebut menunjukkan bahwa setelah aliansi dengan Microsoft diumumkan, kapitalisasi pasar Nokia turun sekitar 50 persen antara Januari 2011 dan Januari 2012, menggambarkan betapa beratnya reaksi pasar terhadap arah baru tersebut.
Keputusan tersebut juga menciptakan persoalan transisi karena Nokia harus meninggalkan Symbian dan mengalihkan perhatian kepada Windows Phone sementara ekosistem baru tersebut belum memiliki kekuatan yang sama dengan Android dan iOS. Dalam dunia smartphone, waktu sangat penting karena pengembang aplikasi akan cenderung memilih platform dengan jumlah pengguna yang besar, sedangkan konsumen akan lebih tertarik kepada platform yang mempunyai banyak aplikasi. Ini menciptakan lingkaran pertumbuhan yang sangat kuat bagi platform yang sudah berada di depan dan membuat perusahaan yang tertinggal harus mengeluarkan sumber daya jauh lebih besar hanya untuk mengejar posisi yang sebelumnya sudah dimiliki pesaing.
Penelitian The Curse of Agility menyimpulkan bahwa serangkaian keputusan teknologi dan desain organisasi Nokia secara bersama-sama menjadi faktor yang cukup untuk membawa perusahaan menuju pengabaian bisnis telepon selulernya. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa kejatuhan Nokia bukan akibat satu kesalahan tunggal, melainkan akumulasi keputusan yang masing-masing mungkin terlihat dapat dibenarkan pada saat dibuat tetapi menjadi sangat berbahaya ketika dilihat sebagai sebuah rangkaian sejarah.
Nokia Akhirnya Menjual Bisnis Ponselnya kepada Microsoft
Pada akhirnya, perusahaan yang pernah menjadi simbol kekuatan industri telepon seluler tersebut tidak berhasil mempertahankan bisnis perangkatnya sebagai perusahaan independen. Microsoft menyelesaikan akuisisi sebagian besar bisnis Nokia Devices and Services pada 25 April 2014 dan memasukkan bisnis tersebut ke dalam segmen Phone Hardware miliknya. Dalam laporan tahunan 2014, Microsoft mencatat total harga transaksi sekitar US$9,5 miliar, termasuk sekitar US$7,1 miliar dalam bentuk kas dan transaksi terkait pembelian kembali surat utang konversi Nokia. Dengan transaksi tersebut, babak Nokia sebagai salah satu pemain utama handset global praktis berakhir.
Namun menariknya, kisah Nokia tidak berakhir sebagai kisah perusahaan yang sepenuhnya hancur. Setelah meninggalkan bisnis handset, Nokia mengalihkan fokusnya kembali kepada bisnis jaringan telekomunikasi dan pada 2016 menyelesaikan akuisisi Alcatel-Lucent senilai sekitar US$16,6 miliar. Para profesor INSEAD yang mempelajari pemulihan Nokia melihat perubahan tersebut sebagai contoh bagaimana perusahaan yang hampir kehilangan arah masih dapat menemukan jalan keluar apabila mampu melakukan perubahan strategis yang benar-benar mendasar. Artinya, yang mati sebenarnya bukan seluruh Nokia, melainkan model bisnis Nokia sebagai raksasa telepon seluler.
Perbedaan tersebut penting karena menunjukkan bahwa perusahaan besar tidak selalu harus mempertahankan bisnis yang dahulu membuatnya terkenal. Dalam kasus Nokia, mempertahankan identitas sebagai produsen handset mungkin justru akan membuat perusahaan terus menghabiskan sumber daya untuk mengejar pasar yang sudah berubah. Keputusan untuk meninggalkan bisnis ponsel kemudian memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk membangun kembali posisi di sektor jaringan telekomunikasi, bidang yang masih sesuai dengan kompetensi teknologi dan infrastrukturnya.
Jadi, Apa Sebenarnya Kesalahan Terbesar Nokia?
Jika semua faktor tersebut disatukan, akan terlalu mudah mengatakan bahwa kesalahan Nokia adalah tidak membuat ponsel seperti iPhone atau tidak menggunakan Android sejak awal. Kesimpulan seperti itu menarik tetapi terlalu sederhana karena mengabaikan persoalan organisasi, teknologi, dan strategi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Penelitian akademik menunjukkan bahwa Nokia sebenarnya mempunyai pengetahuan dan kemampuan teknis yang besar, tetapi perusahaan mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan teknologi, menyelaraskan kepentingan organisasi, mengelola informasi negatif, dan bergerak cukup cepat ketika industri berubah dari persaingan handset menuju persaingan platform.
Yves Doz melihat kasus Nokia sebagai contoh klasik mengenai bagaimana kesuksesan dapat menumbuhkan konservatisme dan hubris. Ketika sebuah perusahaan berhasil dalam jangka panjang, cara berpikir yang sebelumnya menghasilkan kemenangan dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran permanen. Manajemen kemudian cenderung memperbaiki sistem yang sudah ada daripada mempertanyakan apakah sistem tersebut masih cocok dengan dunia yang baru. Dalam kasus Nokia, keberhasilan Symbian, kekuatan merek, jaringan distribusi, dan dominasi handset semuanya merupakan aset yang sangat berharga, tetapi aset yang sama juga dapat membuat organisasi semakin sulit menerima kenyataan bahwa aturan permainan telah berubah.
Para peneliti dari University of Jyväskylä juga memberikan pelajaran yang tidak kalah penting karena mereka memilih melihat kegagalan Nokia melalui serangkaian pilihan konkret, bukan sekadar karakter psikologis para pemimpinnya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dapat mengalami kehancuran bukan karena para pemimpinnya bodoh atau tidak memiliki teknologi, tetapi karena organisasi membuat serangkaian keputusan yang tidak lagi cocok dengan arah perkembangan industri. Kesalahan strategis yang kecil mungkin masih dapat diperbaiki, tetapi ketika kesalahan tersebut saling memperkuat selama bertahun-tahun, pilihan untuk berbelok menjadi semakin mahal dan semakin sulit dilakukan.
Pelajaran Nokia untuk Perusahaan Besar: Bahaya Terbesar Bisa Datang Saat Perusahaan Sedang Berjaya
Kisah Nokia akhirnya memberikan sebuah paradoks yang jauh lebih penting daripada sekadar cerita tentang persaingan Apple, Google, dan Nokia. Perusahaan tidak selalu jatuh ketika mereka lemah; perusahaan juga dapat mulai jatuh ketika mereka terlalu sukses dan tidak lagi mempertanyakan asumsi yang selama bertahun-tahun membuat mereka berhasil. Ketika pasar masih memberikan keuntungan, organisasi cenderung menganggap bahwa strategi yang ada masih benar, sementara tanda-tanda perubahan di luar organisasi dianggap sebagai gangguan yang belum cukup besar untuk mengubah arah perusahaan. Nokia memberikan contoh ekstrem tentang bagaimana situasi tersebut dapat berlangsung sampai akhirnya perusahaan menyadari bahwa pilihan yang tersedia sudah jauh lebih sedikit daripada beberapa tahun sebelumnya.
Pelajaran lainnya adalah bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang lebih canggih. Dalam industri yang berubah cepat, inovasi juga berarti kemampuan untuk memahami di mana nilai ekonomi sedang berpindah. Nokia mempunyai teknologi, tetapi nilai dalam industri smartphone semakin banyak berpindah menuju perangkat lunak, aplikasi, platform, dan ekosistem. Perusahaan yang mampu melihat perpindahan tersebut lebih awal memiliki kesempatan untuk mengubah struktur bisnisnya sebelum pesaing mengambil posisi strategis. Sebaliknya, perusahaan yang hanya memperbaiki produk lama dapat terlihat sangat sibuk berinovasi sekaligus sebenarnya semakin jauh dari arah perubahan industri.
Dan mungkin inilah bagian paling mengejutkan dari seluruh cerita Nokia: iPhone tidak menghancurkan Nokia dalam satu malam, dan Android juga tidak mengambil pasar Nokia hanya karena semua perangkat Android lebih bagus daripada perangkat Nokia. Kehancuran itu merupakan hasil dari proses yang jauh lebih panjang, ketika perubahan teknologi bertemu dengan struktur organisasi yang sulit bergerak, keputusan yang terlambat, platform yang semakin tidak sesuai, konflik kepentingan internal, ketakutan menyampaikan informasi buruk, dan akhirnya pilihan strategis yang membuat Nokia harus mengejar ekosistem yang sudah lebih dahulu dikuasai pesaing. Karena itu, ketika seseorang bertanya mengapa Nokia kehilangan pasar smartphone, jawaban yang paling masuk akal bukanlah "karena iPhone", melainkan karena Nokia gagal melakukan perubahan fundamental sebelum perubahan tersebut menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
Pada akhirnya, Nokia bukan contoh perusahaan yang tidak memiliki teknologi, bukan pula sekadar contoh perusahaan yang kalah karena satu produk pesaing. Nokia adalah contoh tentang bagaimana sebuah perusahaan yang sangat sukses dapat terjebak oleh keberhasilannya sendiri ketika struktur organisasi, teknologi, dan cara membaca pasar tidak lagi bergerak secepat perubahan lingkungan. Apple mengubah cara konsumen memandang smartphone, Google dan Android mengubah struktur kompetisi melalui platform, sementara Nokia terlalu lama berusaha menyelesaikan masalah baru dengan sebagian cara berpikir yang dibentuk oleh kemenangan masa lalunya. Ketika perusahaan akhirnya benar-benar bergerak, medan persaingannya sudah berubah, ekosistem sudah terbentuk, dan biaya untuk mengejar ketertinggalan sudah menjadi terlalu besar. Itulah sebabnya kisah Nokia jauh lebih berharga jika dibaca bukan sebagai cerita tentang perusahaan yang dikalahkan iPhone, melainkan sebagai peringatan bahwa perusahaan terbesar sekalipun dapat kehilangan masa depannya bukan karena tidak mampu berinovasi, tetapi karena terlambat menyadari inovasi seperti apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.
Referensi
- Doz, Yves L. - INSEAD Knowledge. The Strategic Decisions That Caused Nokia’s Failure. Artikel ini membahas faktor internal yang berkontribusi terhadap kemunduran Nokia, termasuk reorganisasi, struktur matriks, konflik internal, birokrasi, ketergantungan pada Symbian, serta kegagalan beralih dari persaingan berbasis produk menuju platform dan ekosistem.
- Doz, Yves L. & Wilson, Keeley. - INSEAD. Ringtone: Exploring the Rise and Fall of Nokia in Mobile Phones. Buku ini merupakan kajian mendalam mengenai perjalanan Nokia dari perusahaan teknologi yang dominan hingga penjualan bisnis ponselnya kepada Microsoft, dengan wawancara dan akses terhadap sejumlah manajer senior Nokia.
- Lamberg, Juha-Antti; Lubinaitė, Sandra; Ojala, Jari; & Tikkanen, Henrikki. - Business History. The Curse of Agility: The Nokia Corporation and the Loss of Market Dominance in Mobile Phones, 2003–2013. Penelitian peer-reviewed ini menganalisis keputusan teknologi dan desain organisasi Nokia yang berkontribusi terhadap kegagalan perusahaan merespons Apple dan Google.
- Lamberg, Juha-Antti et al. - Taylor & Francis/Routledge. The Curse of Agility: The Nokia Corporation and the Loss of Market Dominance in Mobile Phones, 2003–2013. Penelitian ini secara khusus membahas keputusan Nokia mempertahankan Symbian setelah kemunculan iOS dan Android serta berbagai keputusan strategis yang memperburuk posisi Nokia pada periode 2007–2013.
- Microsoft Corporation. - Microsoft 2014 Annual Report. Laporan tahunan resmi Microsoft yang mencatat penyelesaian akuisisi sebagian besar bisnis Nokia Devices and Services pada 25 April 2014 serta pengalihan bisnis tersebut ke segmen Phone Hardware Microsoft.
- INSEAD - Case Study. Symbian Ltd. and Nokia: Building a Smartphone Industry. Studi mengenai pembentukan Symbian dan peran Nokia dalam perkembangan awal industri smartphone.
- INSEAD - Faculty & Research. Nokia: Inside the Story of the Rise and Fall of a Technology Giant. Kajian mengenai proses pengambilan keputusan, dinamika organisasi, kepemimpinan, dan faktor internal yang memengaruhi perjalanan Nokia.
- Aalto University & University of Jyväskylä - Research Publications. Berbagai penelitian mengenai Nokia, strategi teknologi, pengambilan keputusan, organisasi, serta perubahan struktur industri telekomunikasi yang digunakan untuk memahami proses kejatuhan Nokia secara akademis.
Penulis : Nur Syamsiah, SE.
BAGIKAN KE TEMAN ANDA

















