Blogger Sidrap - Ancaman kejahatan siber tak hanya membayangi panggung internasional, tetapi juga berulang kali mengguncang Tanah Air. Mulai dari kebocoran data jutaan warga negara, peretasan situs lembaga pemerintah, hingga kelumpuhan fasilitas publik vital pernah terjadi di Indonesia.
Aksi-aksi peretasan ini tak hanya memicu kepanikan publik, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi infrastruktur keamanan siber nasional. Berikut adalah 6 serangan hacker yang pernah menghebohkan Indonesia:
1. Serangan Ransomware Brain Cipher ke PDNS 2 (2024)
Salah satu peretasan paling berdampak serius dalam sejarah Indonesia terjadi pada Juni 2024, ketika Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 di Surabaya diserang ransomware jenis Brain Cipher. Serangan ini mengunci data penting milik ratusan instansi pemerintah pusat dan daerah.
Dampaknya sangat masif: sistem imigrasi di berbagai bandara internasional lumpuh total hingga memicu antrean panjang, puluhan layanan publik berbasis digital terhenti, dan data penting tak bisa diakses. Peretas bahkan sempat meminta tebusan sebesar 8 juta dolar AS (sekitar Rp130 miliar) sebelum akhirnya memberikan kunci dekripsi secara cuma-cuma beberapa minggu kemudian.
2. Aksi Bikin Heboh 'Hacker Bjorka' (2022)
Nama "Bjorka" mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia pada akhir 2022. Peretas anonim ini mengklaim telah membobol dan memperjualbelikan berbagai data sensitif berukuran jumbo di forum gelap (BreachForums).
Data yang diklaim bocor antara lain: 1,3 miliar data pendaftaran kartu SIM prabayar, data pemilih Pemilu milik KPU, hingga data dokumen surat menyurat milik Presiden RI. Tak berhenti di situ, Bjorka juga melakukan aksi doxing dengan membongkar data pribadi sejumlah pejabat publik Indonesia di media sosial.
3. Kebocoran Data BPJS Kesehatan (2021)
Pada Mei 2021, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh kabar diperjualbelikannya data pribadi milik lebih dari 279 juta penduduk Indonesia di forum peretas. Data tersebut diduga kuat berasal dari basis data BPJS Kesehatan.
Informasi yang bocor sangat terperinci, meliputi Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama lengkap, alamat, nomor telepon, riwayat pembayaran, hingga data keluarga. Kasus ini menjadi salah satu pemicu utama dipercepatnya pembahasan dan pengesahan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di Indonesia.
4. Peretasan Situs KPU dan Pembobolan Data Pemilih (2014 & 2020)
Situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi sasaran empuk peretas, terutama menjelang atau sesudah perhelatan Pemilu. Pada Pemilu 2014, peretas sempat mengubah tampilan (deface) situs resmi KPU dan mengganggu aliran data rekapitulasi suara.
Kejadian serupa terulang pada 2020, di mana seorang peretas mengklaim berhasil mencuri data 2,3 juta DPT (Daftar Pemilih Tetap) KPU yang berisi data identitas warga. Serangan terhadap KPU selalu menjadi sorotan nasional karena menyangkut legitimasi pesta demokrasi negara.
5. Pembobolan Situs Presiden SBY oleh Dani 'Wildbound' (2013)
Pada awal tahun 2013, situs resmi Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (presidensby.info), mendadak tidak bisa diakses akibat serangan deface. Halaman utama situs diubah oleh seorang peretas lokal bernama Wildbound (Jember Hacker Team).
Peretas muda berusia 21 tahun bernama Wildan Yazir tersebut berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian tak lama setelah kejadian. Kasus ini sempat memicu perdebatan publik antara penegakan hukum dan apresiasi terhadap potensi cyber security anak muda di Indonesia.
6. Serangan Cyber War Indonesia vs Australia (2013)
Tahun 2013 juga dicatat sebagai periode "perang siber" (cyber war) paling memanas antara peretas Indonesia dan Australia. Momen ini dipicu oleh terungkapnya skandal penyadapan telepon Presiden SBY dan sejumlah pejabat Indonesia oleh intelijen Australia.
Sebagai bentuk protes, kelompok peretas Indonesia (Anonymous Indonesia) melancarkan serangan balasan secara masif dengan melumpuhkan ratusan situs penting milik pemerintah dan bisnis di Australia. Aksi saling serang deface dan DDoS antar peretas kedua negara berlangsung selama beberapa minggu. (Nadia,07/09)
Baca Selengkapnya.. »
Aksi-aksi peretasan ini tak hanya memicu kepanikan publik, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi infrastruktur keamanan siber nasional. Berikut adalah 6 serangan hacker yang pernah menghebohkan Indonesia:
1. Serangan Ransomware Brain Cipher ke PDNS 2 (2024)
Salah satu peretasan paling berdampak serius dalam sejarah Indonesia terjadi pada Juni 2024, ketika Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 di Surabaya diserang ransomware jenis Brain Cipher. Serangan ini mengunci data penting milik ratusan instansi pemerintah pusat dan daerah.
Dampaknya sangat masif: sistem imigrasi di berbagai bandara internasional lumpuh total hingga memicu antrean panjang, puluhan layanan publik berbasis digital terhenti, dan data penting tak bisa diakses. Peretas bahkan sempat meminta tebusan sebesar 8 juta dolar AS (sekitar Rp130 miliar) sebelum akhirnya memberikan kunci dekripsi secara cuma-cuma beberapa minggu kemudian.
2. Aksi Bikin Heboh 'Hacker Bjorka' (2022)
Nama "Bjorka" mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia pada akhir 2022. Peretas anonim ini mengklaim telah membobol dan memperjualbelikan berbagai data sensitif berukuran jumbo di forum gelap (BreachForums).
Data yang diklaim bocor antara lain: 1,3 miliar data pendaftaran kartu SIM prabayar, data pemilih Pemilu milik KPU, hingga data dokumen surat menyurat milik Presiden RI. Tak berhenti di situ, Bjorka juga melakukan aksi doxing dengan membongkar data pribadi sejumlah pejabat publik Indonesia di media sosial.
3. Kebocoran Data BPJS Kesehatan (2021)
Pada Mei 2021, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh kabar diperjualbelikannya data pribadi milik lebih dari 279 juta penduduk Indonesia di forum peretas. Data tersebut diduga kuat berasal dari basis data BPJS Kesehatan.
Informasi yang bocor sangat terperinci, meliputi Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama lengkap, alamat, nomor telepon, riwayat pembayaran, hingga data keluarga. Kasus ini menjadi salah satu pemicu utama dipercepatnya pembahasan dan pengesahan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di Indonesia.
4. Peretasan Situs KPU dan Pembobolan Data Pemilih (2014 & 2020)
Situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi sasaran empuk peretas, terutama menjelang atau sesudah perhelatan Pemilu. Pada Pemilu 2014, peretas sempat mengubah tampilan (deface) situs resmi KPU dan mengganggu aliran data rekapitulasi suara.
Kejadian serupa terulang pada 2020, di mana seorang peretas mengklaim berhasil mencuri data 2,3 juta DPT (Daftar Pemilih Tetap) KPU yang berisi data identitas warga. Serangan terhadap KPU selalu menjadi sorotan nasional karena menyangkut legitimasi pesta demokrasi negara.
5. Pembobolan Situs Presiden SBY oleh Dani 'Wildbound' (2013)
Pada awal tahun 2013, situs resmi Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (presidensby.info), mendadak tidak bisa diakses akibat serangan deface. Halaman utama situs diubah oleh seorang peretas lokal bernama Wildbound (Jember Hacker Team).
Peretas muda berusia 21 tahun bernama Wildan Yazir tersebut berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian tak lama setelah kejadian. Kasus ini sempat memicu perdebatan publik antara penegakan hukum dan apresiasi terhadap potensi cyber security anak muda di Indonesia.
6. Serangan Cyber War Indonesia vs Australia (2013)
Tahun 2013 juga dicatat sebagai periode "perang siber" (cyber war) paling memanas antara peretas Indonesia dan Australia. Momen ini dipicu oleh terungkapnya skandal penyadapan telepon Presiden SBY dan sejumlah pejabat Indonesia oleh intelijen Australia.
Sebagai bentuk protes, kelompok peretas Indonesia (Anonymous Indonesia) melancarkan serangan balasan secara masif dengan melumpuhkan ratusan situs penting milik pemerintah dan bisnis di Australia. Aksi saling serang deface dan DDoS antar peretas kedua negara berlangsung selama beberapa minggu. (Nadia,07/09)















.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)





